tugas cerpen bahasa Indonesia
SEPOTONG
EPISODE
“lang, Elang.. ayo keluar, lihat ada
pelangi di sana, ayo kesanaaa”, ajak Sang Merpati sore itu. Waktu itu hujan
baru saja reda, setelah mengguyur bumi lebih dari 10 jam. Kini hanya tersisa
rintik-rintiknya. Menyisakan pelangi indah di ufuk barat, bersama matahari yang
tersenyum merekah. Hal itu yang menjadikan Sang Merpati ingin menghampiri
mereka. Karena baru kali ini Ia melihat pemandangan seindah itu.
“maaf
Merpati, kali ini kau pergi saja sendiri, aku sedang sibuk”, teriak Elang dari
dalam rumahnya.
“ah,
ayolah Lang, jarang sekali aku melihat pemandangan sebagus ini, temani aku
kesana”, bujuk Merpati.
“aku
tidak bisa, aku sibuk”, tolak Elang.
“pulanglah
saja, toh sudah ku siapkan rumah untukmu agar kau bisa berteduh, cuaca di luar
cukup berbahaya untukmu”, tambah Elang.
“aku
tak butuh rumah Lang, aku tak peduli cuaca separah apapun, aku hanya ingin
mendekati pelangi itu, tidak lebih !”, ujar Merpati.
Emosinya kian menjadi saat itu, Elang pun
bingung harus mengatakan apa untuk menolak Merpati. “bagaimana aku akan ikut
denganmu Merpati,sedangkan kakiku terluka seperti ini? bagaimana mungkin aku
mengatakan ini padamu yang berarti aku akan merusak rencanamu sore ini? Merpati
maafkan aku”, gumam Elang pada dirinya sendiri sambil mengeram kesakitan. Belum
sempat Elang menjawab, teriakan Merpati terdengar kembali,
“ini
yang namanya teman ? kamu tidak mau melihatku bahagia ? aku kecewa Lang..
kecewaaa”.
Mendengar
pernyataan itu, hati Elang seakan teriris pisau belati yang tajam. Kawan setia
yang selama ini selalu bersamanya kini telah dikecewakannya. Elang pun merasa
amat bersalah.
Namun tiba-tiba Guntur dan Petir
datang, “ada apa Merpati ? apa yang telah Elang lakukan padamu?”, tuduh Petir.
“pembohong,
sahabat macam apa yang tak mau melihat sahabatnya bahagia”, ujar Merpati penuh
emosi.
“aku
hanya mengajaknya menhampiri pelangi, sudah itu saja. Sesibuk itukah dia sampai
Ia tak mau menemaniku?”, tambahnya.
“tenanglah
dulu Merpati, mungkin dia benar-benar sedang sibuk”, kata Guntur menengahi.
“kalau
begitu pergilah denganku Merpati, aku siap menemanimu, biarkan saja Elang
sendiri disini”, tawar Petir.
Dalam kebingungan, dengan emosi yang
cukup tinggi, Merpati mengikuti langkah Petir yang perlahan meninggalkan rumah
Elang.
“woy
Guntur, ayo, kau mau ikut kami tidak?”, tegur Petir.
Dengan
gelagapan Guntur menjawab, “eh..emm, kalian pergi duluan saja”, katanya.
“ah
dasar kau ini, sama saja dengan Elang”, hujat Petir.
Merpati
terus berjalan dalam kebingungan. Namun tak bisa dipungkiri rasa bahagia ketika
Ia membayangkan bertemu dengan pelangi juga dirasakannya.
Guntur berdiri di depan Elang, Ia
berfikir, “kenapa kali ini Elang menolak ajakan Merpati? Bukankah biasanya Ia
selalu ada untuk Merpati? Tapi kali ini, apa iya hanya gara-gara dia sibuk ?
ah, kuasa tidak”. Guntur pun memutus pemikirannya dan mencoba mengetuk pintu
rumah Elang.
“Lang,
Elang”, tak ada jawaban.
“Elang,
apa kau baik-baik saja?”, tanya Guntur sekali lagi.
Dari
dalam rumah terdengar suara samar-samar, “iya”.
“bolehkah
aku masuk Lang?”, tanya Guntur.
“masuklah”,
jawab Elang.
Perlahan
Guntur membuka pintu itu, yang sebenarnya tidak terkunci. Matany terbelalak
ketika melihat Elang terkapar bersibah darah di kakiknya.
“Elaaang..astaga,
kamu kenapa ?” tanya Guntur penuh tanda tanya.
Elang
tak menjawab, Ia hanya merintih kesakitan. Guntur pun membawa Elang ketempat
tidurnya, dan mengobati lukanya.
“kenapa
kamu berbohong Lang?”, tanya Guntur.
“aku
tak ingin merusak kebahagiaan Merpati, baru kali ini Ia melihat pelangi,
biarlah aku yang merasakan sakit ini, aku baik-baik saja”. Ujar Elang.
“kamu
bodoh Lang, kamu bodoh!! Membiarkan Merpati pergi, sedangkan kita tahu pelangi
itu akan cepat menghilang, dan Ia akan merasakan sakit yang lebih saat
kehilangan”, bentak guntur menyalahkan.
“biarlah,
biarkan saja. Setidaknya sore ini Merpati bisa tersenyum bahgia bersama
pelangi”, Elang menitikkan air mata.
Sementara itu, Merpati pergi dengan
gembira bersama Petir.
“bagaimana
Merpati? Indah bukan? Aku bisa menemanimu
kapanpun dan dimanapun, tidak seperti Elang yang mementingkan dirinya
sendiri”, Petir tertawa puas.
“iya,
kamu benar Petir, tapi kita sekarang dimana ? mana pelanginya?”, tanya Merpati
kebingungan.
“haha,
kamu terlalu bodoh merpati, dan bahkan kau tak menyadari bahwa kita telah
melewatinya, dan kau tahu? Ini adalah kawasan pemburu yang akan memburu
burung-burung sepertimu,hahaha”, jawab Petir dengan tertawa.
“apa
maksutmu? Ayo kita kembali”, ajak
Merpati.
“kau
bilang kita? Kau sendiri saja sana, sebelum mereka membunuhmu, hhaha”.
Merpati
benar-benar tk menyangka jika Petir melakukan ini, Ia pun kembali keasalnya
dengan persaan was-was. Dorrr..dorr.., hampir saja Ia terkena pistol pemburu
itu. Ia pun bergegas kembali.
“awas
kau petir, akan kuadukan kau ke matahari agar dia mengusirmu”, hujat Merpati.
Tak berselang lama, hujan mulai
deras. Merpati kebingungan, kemana Ia akan berteduh, rumahnya telah hancur
terkena sambaran kilat semalam. “o iya, Elang telah memperbaiki rumahku, aku
akan pulang..” kata Merpati pada dirinya sendiri. Sesampainya di rumah, Ia
duduk termangu, kembali memikirkan temannya, Elang. Mengapa Ia tega membiarkan
dirinya sendiri , keluh Merpati. Tiba-tiba lamunannya dibuyarkan oleh suara
ketuka pintu.
“Merpati,
ini aku Guntur, bolehkah aku masuk?” tanya Guntur.
“masuk
saja Guntur”, sahut Merpati.
“ada
apa hujan-hujan seperti ini kau datang kerumahku?” lanjut Merpati.
“aku
hanya ingin memberi tahumu, Elang sakit, a terluka parah saat membenahi
rumahmu, dan kurasa Petir pun tahu tentang hal ini”, jelas Guntur.
“apa???
Jadi tadi ?” tanya Merpati tak percaya.
“iya
Merpati, Elang hanya tak ingin merusak kebahagiaanmu sore ini jika kau
mengetahui bahwa dirinya terluka”, kata Guntur lagi.
“ah
Elang, bodoh sekali kamu, membiarkan aku meninggalkanmu dan menghujatmu”, sesal
Merpati.
Akhirnya Merpati pun nekat menerobos
derasnya hujan, tak peduli betapa banyak air yang membasahi tubuhnya, itu semua
dilakukan untuk menemui Elang.
“Elang,
maafkan aku yang tak ada disampingmu disaat –saat seperti ini, maafkan aku”,
sesal Merpati disela derasnya hujan.
Sesampainya dirumah Elang, Merpati
mengetuk pintunya.
“Elang,
buka Lang, ini aku Merpati, tolong buka pintunya”, pinta Merpati namun tak ada
jawaban.
“buka
Lang, aku menyesal”. Berulang kali Merpati mengetuk pintu itu, namun hampa, tak
ada suara, tak ada tanda-tanda kehidupan disana. Lama Merpati menunggu didepan
pintu, hingga akhirnya hujan reda. Tak lama setelah itu, Elang datang bersama
Petir. Dengan tertatih Elang memapah Petir. Ternyata Petir terkena tembakan
pemburu.
“aku
menyesal Merpati, aku yang salah atas ini semua, aku berhak menerima ini”,
tangis Petir.
Dan
seketika itu Elang tersungkur di hadapan Merpati, bersamaan dengan datangnya
Guntur yang kemudian memapah Petir.
“Merpati,
yakinlah, kau akan menemukan kebahagiaanmu kelak. Aku akan sealalu di hatimu,
tersenyumlah”, ucap elang dengan tertatih.
Dan
elang pun menghembuskan nafas terakhirnya. Merpati tak sanggup berkata-kata.
Hanya air mata yang mampu mengisyaratkan semuanya.
“relakan
dia Merpati, dia akan bahagia melihatmu bahagia”, ujar Guntur.
“perlu
kamu tahu, Elang hanya ingin melihat orang-orang disekitarnya tersenyum. Dan
satu lagi, elangi itu hanya keindahan sesaat, jangan pernah meninggalkan dia
yang menemanimu selama ini hanya untuk hal itu”, pesan Petir.
Merpati hanya mampu menangis,
meratapi raga Elang yang tak bernyawa di hadapannya.
-THE END-
Komentar
Posting Komentar