artikel kesenjangan antara harapan dan kenyataan energi listrik di Indonesia
Mengenal
Krisis dan Kebutuhan Energi Listrik di Indonesia
Perkembangan dan dinamika
kondisi global dan nasional, baik yang terkait langsung maupun tidak langsung
terhadap perkembangan kondisi energi listrik Indonesia perlu dijadikan
perhatian dalam menentukan arah, sasaran, dan strategi pengembangan
kebijakan energi listrik Indonesia di masa mendatang.
Data
Pusat Konservasi Energi Jepang pada 2011, konsumsi energi Indonesia berdasarkan
produk domestik bruto (PDB) per kapita mencapai US$ 572 dan konsumsi listrik
per kWh sebesar 2.251 per kapita.
Permasalahan Listrik di Indonesia
Indonesia
merupakan negara kepulauan yang terdiri
dari ± 17.508 pulau besar dan kecil dengan luas 3.1 juta km2.
Dengan jumlah desa lebih dari 65.000 desa yang tersebar luas dibelasan ribu
pulau tersebut, hanya kurang dari setengahnya yang telah menikmati jaringan
listrik negara, sebagian besar dari mereka masih menggunakan lampu minyak
tanah/patromak untuk penerangan. Untuk memperoleh informasi dari radio
mereka menggunakan batu baterai, sedangkan untuk televisi adakalanya mereka
menggunakan accu/aki yang charge didaerah yang memiliki generator.
Kondisi
infrastruktur kelistrikan di Indonesia sangat memprihatinkan. Kapasitas
pembangkit yang dimiliki sebesar 35,33 GW (gigawatt) untuk memenuhi kebutuhan
sejumlah ±237 juta jiwa. Kapasitas tersebut jauh di bawah kemampuan produksi
listrik Singapura dan Malaysia. Kapasitas pembangkit di Singapura mampu
memproduksi listrik sebesar 10,49 GW untuk memenuhi kebutuhan 5,3 juta
penduduk. Sementara kapasitas pembangkit Malaysia sebesar 28,4 GW untuk
kebutuhan 29 juta penduduk.
Penyebab Krisis Listrik di Indonesia
a)
Pembangunan
transmisi listrik di Sumatera yang lambat disebabkan kurangnya integrasi PLN
dengan BUMN Karya (sinergi BUMN).
b)
Orientasi
pembangunan jaringan PLN masih menunggu bantuan luar negeri serta proses
investasi asing.
c)
Upaya PLN
membangun pembangkit listrik untuk mengimbangi lonjakan permintaan listrik
tidak berjalan sesuai rencana.
d)
proses perizinan
yang panjang dan tidak memiliki standar baku serta pendanaan.
e)
masalah ketersediaan peralatan, material,
maupun sumber daya manusia (SDM) akibat pembangunan yang dilakukan secara
serentak.
Kesenjangan
Antara Harapan dan Kenyataan
Masyarakat
Indonesia khususnya yang berada di daerah yang belum terjamah oleh energi
listrik umumnya mengharapakan segera mendapat aliran listrik. Namun pada
umumnya masyarakat yang sudah bisa menggunakan listrik secara mudah tidak
memperdulikan hal-hal tersebut.
Melihat
permasalahan energi listrik di Indonesia serta penyebabnya, ternyata tidak
sepenuhnya menyadarkan masyarakat bahwa dimasa mendatang energi listrik semakin
dibutuhkan. Masyarakat tetap membuang-buang energi listrik yang mereka gunakan
sehari-hari dengan percuma.
Sepertihalnya
di sekitar kita, lampu penerangan jalan hingga siang hari tidak ada yang
mematikan, lampu kelas serta kipas angin yang ditinggal para siswa begitu saja
ketika ruangan sudah tidak terpakai, penggunaan listrik disetiap rumah yang
berlebihan, misalnya dalam satu rumah menggunakan lebih dari 2 tv, penggunaan
AC disetiap ruangan, dll.
Inilah yang menjadikan
kesenjangan antara harapan dan kenyataan tentang energi listrik di Indonnesia.
Seharusnya dengan ketersediaan serta kebutuhan dalam jangka waktu yang panjang
, masyarakat dapat menghemat listrik agar energi listrik dapat digunakan hingga
masa yang akan datang.
Komentar
Posting Komentar