Sukoharjo, 25 Mei 2019


Assalamu’alaika, Ammar…
Do’aku tetap sama, dimanapun engkau, sedang melakukan apapun, bersama siapapun, dan dalam kondisi hati yang seperti apapun, semoga Allah selalu melindungimu, memberimu rahmat, dan memberimu hidayah.. ditunjukkan jelas padamu mana yang hak dan yang batil.
Dan tentunya do’a ini juga kutujukan untuk diriku sendiri, keluargaku, keluargamu, dan semua saudara seiman kita.

Ammar…
Maaf ana gagal menjaga perasaan ana :(( Pagi ini hati ana rasanya sesak sekaliii. Membaca sebuah chat dari seorang ikhwan, yang beberapa waktu ini sempat menjadi pengisi hati.
Maaf Ammar.. sudah ana katakan bahwa dalam perjalanan ana menjaga hati untukmu, ana beberapa kali terpeleset. Dan kali ini ana rasa juga :’(

Ammar, ketika nanti kita bertemu, ana harap kau menjadi penawar rindu atas sebuah rasa yang mati karena penantian yang panjang. Namun setelahnya, bisakah kau menjadi sesosok imam yang selalu menjadi tujuan ana berpulang dan yang selalu ana rindukan ?  Ammar.. maafkan kesalahanku dalam perjalanan ini.. ana yakin kau mengerti..

Bolehkah ana bercerita sedikit, Ammar? Tentang sosok yang menemani perjalanan ana sebelum bertemu denganmu? Bukan bermaksud membuatmu terluka, bukan bermaksud membandingkan. Namun harapku, suatu saat, ketika kau membaca tulisan ini, kau mampu menjadi sosok terbaik dalam hidup ana.. menjadi penyempurna agama yang terbaik dengan mengambil pelajaran dari ceritaku. Kau paham kan, Ammar?

Ammar..
21 September 2018 lalu, ana bertemu seorang ikhwan yang entah kenapa ia mampu membuat ana semakin mencintai Allah dan Rasul-Nya. Bukan kamuflase Ammar, ana serius dengan kalimat ini. Tapi tentu ana yakin kau mampu membuatku tak hanya jatuh cinta pada-Nya, namun juga menjadi arah tujuan hidupku, membersamaiku meraih ridho-Nya.

Ia sosok laki-laki yang baik Ammar.. bahkan kalau kau mau, ana ingin dirimu mengucap terimakasih padanya. Ia menjadikan ana pribadi yang kuat, wanita sholeha, bahkan istri yang taat untukmu nanti. Mungkin pikirmu dia berlebihan, mungkin juga orang lain pikir ini berlebihan. Tapi ana yakin kau mengerti perasaan ana.

Dan kau tahu Ammar? Pagi ini, ia mengirimiku pesan singkat, yang pada intinya ia mau melepas diri dari fitnah yaitu ana. Dan ia juga ingin ana terlepas dari fitnah yaitu dirinya. Jujur, ana terluka Ammar.. tapi ana seharusnya bahagia, ia laki-laki baik yang tidak mau ana tergores sedikitpun. Ana dan dia tau, sebetulnya hubungan kami terlalu jauh Ammar, tapi sekali lagi, kita sama-sama tahu ini tidak boleh dilakukan, Allah menyayangi kami dengan menyelamatkan kami melalui pikiran dan perasaan yang terus saja menolak untuk jatuh. Dan ana tidak mungkin menyesatkan diri untuk terus mempertahankan ini semua.

Ana yakin dia juga sadar, bahwa ana terluka. Entah kenapa ana juga yakin dia merasakan hal yang sama. Itulah hebatnya dia, berusaha yakin meninggalkan ana untuk mencari ridho-Nya.
Ammar.. apakah kau cemburu? Mungkin iya. Maafkan ana.. ana hanya ingin kamu tahu siapa dan bagaimana perjalanan ana menjaga diri untukmu. Allah baik.. sangat menyayangi ana.. selalu mengirim orang-orang baik disekeliling ana.

Kau sendiri bagaimana Ammar? Apakah kau juga terpeleset di hal yang sama ? kalau iya, maaf Ammar, ana akan sangat cemburu mendengar ceritamu nantinya ^^
Yassarallahulana, datanglah diwaktu yang tepat, saat kita sudah mau dan mampu :))

Salam,

Komentar

Postingan populer dari blog ini

simfoni indah

tugas cerpen bahasa Indonesia