Selasa 15 Desember 2015.
Love story,
Pembicara
pada seminar kali ini merupakan seorang Muslimah cantik dengan baju coklat muda
berpadu rok serta jilbab coklat tua. Wanita cerdas yang polos. Beliau sudah
mempunyai satu anak , namun wajahnya masih terlihat sebagai wanita usia 18
tahun. Saya akan menceritakan sedikit kisah cintanya yang pernah dilamar 12
orang, tapi hanya beberapa yang beliau ceritakan. Karna beliau sangat malu
membicarakan hal seperti ini dimuka umum. Tapi karena alasan teman-teman saya
“untuk memperbaiki akhlak kedepannya” maka beliau bersedia menceritakannya.
Beliau
mengawali pembicaraan dengan basmalah serta meminta kepada Allah agar apa yang
beliau ucapkan bermanfaat serta beliau bisa mengatur lisannya dalam berbicara.
Lalu beliau memulainya dengan sangat berhati-hati.
Dulunya
beliau sekolah diasrama dari SMP hingga SMA. Perlu saya akui bahwa wanita yang
satu ini perlu dicontoh oleh para wanita muslimah saat ini. Komitmen kuat telah
telah tertancap padanya semenjak beliau berada di Sekolah Menengah Pertama.
“saya disini hanya belajar, belajar dan belajar”. Kapan dan dimanapun ia
berada, pasti buku tak pernah lepas dari genggaman tangannya.
Pengalaman
waktu SMP. Beliau bukanlah orang yang pemberani. Bahkan beliau sangat pemalu
sekali. Prinsipnya adalah ilmu dunia itu bisa dipelajari semalam, sedangkan
ilmu akhirat itu dipelajari seumur hidup pun tak akan habis. Namun
kenyataannya, ilmu akhirat yang beliau cari juga menjadikan beliau memperoleh
ilmu dunia. Beliau itu tumbuh menjadi wanita yang pemalu, cerdas, serta
sholihah. Pernah suatu ketika teman beliau mengatakan “ukhti, dapat salam dari
si Fulan”, pikiran beliau langsung “ah, dia berarti musuh saya yang ingin
menghancurkan prestasi saya”. Beliau tak pernah berfikir tentang perasaan suka.
Yang ada didalam pikirannya adalah dunianya itu hanya ada wanita, bahkan beliau
menganggap dirinya adalah orang yang paling anti dengan yang namanya lelaki.
Satu kelemahan wanita ini, beliau tidak bisa bersosialisasi dengan
teman-temannya. Karena beliau terlalu sibuk dengan buku-bukunya. Bahkan antri
mandi pun buku tak pernah lepas dari tangannya.
Lulus
SMP beliau melanjutkan ke SMA, asrama pula. Disekolahnya ia dituntut untuk
lebih bisa bersosialisasi karena beliau ditunjuk menjadi ketua OSIS. Saya tidak
begitu mengingat apa yang terjadi ketika beliau SMA. Jadi saya teruskan saja.
Sebelum
masuk kuliah. Beliau dilamar pertama kali oleh seorang pria, namun pria ini
tidak menemuinya, melainkan menemui orang tuanya, karna pada saat itu beliau
sedang mengikuti semacampelatihan bagi santriwan-santriwati di Surabaya agar
siap menghadapi dunia perkuliahan. Ternyata pinangan tersebut ditolak oleh
ayahnya. Dan beliau pun menurut pada ayahnya. Beliau sepenuhnya yakin pilihan
ayahnya pastilah yang terbaik, dan beliau
ingin berbakti semaksimal mungkin pada ayahnya sebelum beliau berbakti pada
suaminya.
Masuk di
semester 3 kuliahnya, beliau mendapat
setumpuk buku dari seseorang melalui temannya. Ketika ia buka buku-buku
itu, ternyata ada surat didalamnya yang berisi biodata seorang laki-laki yang
dikatakan bahwa ia adalah kakak kelas beliau. Namun beliau tak tahu sedikitpun
bahkan tak mengetahui rupa laki-laki tersebut. Juga hadis yang menceritakan
seseorang apabila telah menemui wanita yang baik maka segeralah dipinang, lalu
menanyakan perihal tersebut. Dan permintaan agar beliau membaca buku2 itu untuk
dipelajari, jika tidak faham, maka bisa ditanyakan dan mereka bisa belajar
bersama.
Beliau
memutuskan mengembalikan buku2 itu dan mengirim balasan. Beliau mengatakan
setuju dengan hadis itu, segera saja dilamar, katanya. Beliau juga meminta agar
lelaki tersebut tak pernah muncul dihadapannya serta beliau menolak ajakan
belajar bersama karna dirasa akan banyak mudharatnya. Beliau tak pernah menyadari
bahwa wanita baik yang dimaksud lelaki tersebut dalam hadis itu adalah sebuah
isyarat untuk meminangnya. Beliau sangat polos sekali.
2 tahun
berlalu setelah kejadian itu. Laki-laki itu benar-benar tak pernah muncul dihadapannya.
Tepat ketika beliau semester 7. Beliau dipanggil oleh dekan universitasnya.
Ternyata ditanya mengenai tentang penelitian untuk skripsi. Dan tiba-tiba dekan
tersebut menyerahkan sebuah proposal, yang dikira beliau adalah proposal
lamaran pekerjaan. Tapi ternyata itu adalah proposal cinta yang isinya biodata tentang laki-laki yang pernah
memberinya buku setumpuk dulu, lengkap dari ia lahir hingga pandangannya
tentang pernikahan.
Lalu
beliau menelvon ayah beliau untuk menanyakan tentang hal itu. Ayah beliau
berkata tidak usah. Jadi seketika itu pula beliau meyerahkan kembali proposal
tersebut kepada dekannya. Dengan alasan orang tu tidak menyetujui. Dewan dekan
itu akhirnya menerima alasan itu. Waktu berjalan. Beliau menjalani hari-hari
dengan tenang karena mengetahui bahwa laki-laki tersebut sudah kembali ke
negara asalnya.
Pada semester
berikutnya, beliau menemukan sosok ikhwan yang sangat sholeh menurut
pandangannya. Beliau kagum dengannya. Beliau kerap mengikuti berbagai kegiatan
bersama dengan ikhwan tersebut seperti bakti sosial, pengobatan gratis,
pengajian, dll. Namun beliau tak pernah bertegur sapa sedikitpun dengan ikhwan
tersebut.
Pada
semester kali ini beliau harus melakukan praktek kerja di kota Malang. Dan pada
suatu ketika beliau mendapat telvon dari seseorang yang ternyata dari sang
ayah. “nduk, ini teman kamu yang namanya mas A datang kesini melamarmu,
bagaimana?”. Sontak beliau kaget mendengar nama yang disebutkan oleh ayahnya.
Kaget bercampur gembira tentunya. Beliau berharap dalam hati lamarannya akan
diterima oleh ayah dan ibunya. “terserah ayah saja, saya yakin pilihan ayah
yang terbaik buat saya”, lagi-lagi beliau menyerahkan semuanya kepada sang
ayah, walau dalam hati beliau terus berharap. Ayah beliau memutus telvon tanpa
memberi tahu beliau keputusan akhirnya.
Dan ya.. begitulah beliau tidak tahu apa yang diputuskan kedua
orangtuanya.
Praktek
kerja beliau selesai. Beliau menjalani aktivitas dikampus seperti biasa. Hari
pertama masuk banyak suara yang menyayangkan perihal penolakan lamaran seorang
ikhwan terhadap beliau. Dan beliaupun tahu ternyata orang tuanya menolaknya. Yahh... ikhwan tersebut termasuk orang
yang diidamkan para mahasiswi kampus. Tapi orangtua beliau menolaknya, apa
boleh buat. Beliau hanya menjawab kepada teman-temannya “sudah keputusan
orangtua saya mbak, mas”. Namun beliau penasaran, kenapa seisi kampusnya bisa
tahu jika si ikhwan melamarnya dan ditolak? Dan ternyata si ikhwan sendiri yang
menceritakannya. Hadehhh..
Hari itu
hari senin, beliau memutuskan untuk berbicara pada sang ayah perihal
pernikahan, karena beliau mengingat hadis nabi apabila sudah siap, bicarakanlah
baik-baik kepada orang tuamu. Dan juga beliau mengingat usianya yang semakin
bertambah.
Kamisnya,
calon yang dipilihkan ayahnya sudah ada. Beliau pun berta’aruf dengannya.
Beliau mengajukan beberapa pertanyaan yang kemudian dijawab lelaki itu lewat
via e-mail. Dan akhirnya mereka pun menikah, yang sejatinya mereka tidak pernah
mengenal satu sam lain, bahkan bertemu pun belum pernah.
Beliau meminta mahar yang berupa
100 buku dengan judul yang berbeda. Dan calon suaminya itu pun menyanggupi.
Subhanallah memang, pembicara kita kali ini.
Bisa menjadi inspirasi untuk para muslimah. Demikian yang dapat saya ceritakan,
semoga bermanfaat.
Komentar
Posting Komentar